Potret Kerasnya Bangku Kuliah: Mahasiswi Pinrang Jadi Kuli Panggul Semen Berupah Rp600 Per Sak


"Di saat banyak pemuda sebayanya fokus menikmati masa muda, pundak mahasiswi ini justru harus menahan beban puluhan kilogram semen demi memutus rantai kemiskinan keluarga," kisah Nur Aini, seorang mahasiswi asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, di ruang publik.

story for lunch - Nama Nur Aini menjadi perbincangan luas setelah kisahnya diangkat dalam program siniar (podcast) Deddy Corbuzier dengan tajuk yang merepresentasikan realitas hidupnya: diupah 600 rupiah per sak semen demi membiayai kuliah. Berstatus sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Universitas Negeri Makassar (UNM), Aini secara langsung mendobrak stigma bahwa pekerjaan buruh panggul kasar hanya bisa dilakukan oleh laki-laki dewasa. Profesi yang menguras tenaga ini faktanya sudah ia jalani sejak masih duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 2013 silam.

Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, beban dan tanggung jawab besar otomatis bertumpu pada dirinya. Mengingat kedua orang tuanya juga berprofesi sebagai buruh angkut semen, penghasilan keluarga menjadi sangat terbatas dan sepenuhnya bergantung pada kekuatan fisik harian di lapangan.

"Upah sebesar 600 rupiah untuk setiap sak semen yang dipanggul memang tampak teramat kecil secara matematis, namun akumulasi dari keringat itulah yang memastikan pendidikan adik-adiknya tidak terhenti dan biaya kuliah tetap terbayarkan," urai sebuah catatan pengamat sosial dalam menilai kegigihan kelompok masyarakat ekonomi kelas bawah.

Mengangkut beban semen seberat 40 hingga 50 kilogram per sak tentu memberikan dampak fisik yang luar biasa bagi seorang perempuan muda. Aini secara terbuka mengakui bahwa pada masa awal bekerja, ia kerap mengalami nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, hingga rasa sakit yang terus menjalar di area bahu. Meski begitu, pekerjaan berat tersebut tetap dilakoninya dengan disiplin, terutama pada waktu luang dan masa libur semester perguruan tinggi.

Eksposur media terhadap perjuangan Aini turut menarik simpati dari berbagai kalangan, termasuk jajaran petinggi militer daerah di wilayah Sulawesi Selatan yang secara khusus menemui dan mengapresiasi kemandiriannya. Fenomena ini sekaligus membuka mata publik mengenai kerasnya rintangan struktural yang harus dihadapi oleh kelompok akar rumput untuk sekadar mengakses hak pendidikan tinggi di Indonesia.

Kehadiran sosok Aini di ranah digital tidak dibingkai sebagai sekadar konten viral pencari simpati, melainkan sebagai teguran nyata bagi ketimpangan sosial ekonomi yang masih terjadi.

"Memilih pekerjaan kasar secara sadar demi kelangsungan hidup keluarga adalah bentuk paling nyata dari tanggung jawab, sebuah realitas keras yang menampar gaya hidup konsumtif generasi modern saat ini," pungkas kesimpulan liputan tersebut, merangkum esensi perjuangan tak kenal lelah dari sang mahasiswi panggul semen.

Previous Post Next Post